perisainegri.Com _ PEKANBARU – Antusiasme masyarakat Provinsi Riau terlihat jelas saat menyambut kepulangan Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, yang kembali ke Pekanbaru setelah menjalani penahanan sekitar ±120 hari oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Kedatangan Abdul Wahid di tengah bulan suci Ramadan ini disambut oleh ratusan masyarakat serta perwakilan dari Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan (AMUK) Riau yang datang memberikan dukungan moral.
Sejumlah masyarakat terlihat memadati area sekitar Bandara Sultan Syarif Kasim II hingga di sekitar Rumah Tahanan Negara Kelas I Pekanbaru. Mereka datang dengan menyuarakan dukungan kepada pemimpin yang mereka yakini tidak bersalah.
Seruan dukungan menggema dari para pendukung yang hadir. Massa berulang kali meneriakkan kalimat, “Pak Gubernur tak bersalah, takbir! Selamat datang gubernur kami!” sebagai bentuk solidaritas kepada Abdul Wahid.
Kedatangan Abdul Wahid di Rutan Sialang Bungkuk juga disambut haru oleh sejumlah ibu-ibu yang mengiringi suasana dengan tabuhan rebana. Tangis haru pun pecah di antara para pendukung yang meyakini bahwa pemimpin mereka tidak bersalah.
Salah seorang ibu yang mengaku sebagai pendukung Abdul Wahid menyampaikan keyakinannya di hadapan massa.
> “Kami yakin Pak Abdul Wahid tidak bersalah. Ini hanya fitnah bagi gubernur kami. Kami percaya beliau pemimpin yang amanah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dalam kesempatan yang sama, sebagian masyarakat juga mempertanyakan proses hukum yang menurut mereka perlu dijalankan secara adil dan transparan. Mereka menyinggung nama Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Sf Haryanto, yang sebelumnya juga pernah dimintai keterangan oleh KPK.
“Kalau memang ada pemeriksaan dan bukti terhadap pihak lain, seharusnya diproses secara terbuka. Kenapa hanya gubernur kami yang ditahan?” ungkap seorang warga yang hadir di lokasi.
Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan (AMUK) Riau juga menyampaikan bahwa mereka akan terus mengawal jalannya proses hukum agar berjalan secara objektif dan tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
Menurut mereka, masyarakat Riau berharap pemerintah dan aparat penegak hukum dapat bersikap transparan dalam menangani kasus yang menyita perhatian publik tersebut.
“Kami masyarakat tidak tinggal diam. Kami hanya meminta keadilan dan keterbukaan dari pemerintah dalam menindaklanjuti kasus yang terjadi di Riau,” ujar salah seorang perwakilan massa.
Di bulan Ramadan ini, doa dan harapan masyarakat terus mengalir agar persoalan hukum yang menimpa Abdul Wahid segera mendapatkan kepastian hukum yang adil, sehingga situasi pemerintahan dan kepercayaan publik di Provinsi Riau dapat kembali kondusif.






