
perisainegri.Com _ Teluk Kuantan — Komitmen dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas terus diperlihatkan oleh Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Teluk Kuantan. Melalui langkah nyata, Kepala Lapas setempat menggelar kegiatan penguatan sekaligus evaluasi terhadap para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), sebagai bagian dari strategi mendongkrak kinerja organisasi secara menyeluruh.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan menjadi momentum penting dalam membentuk karakter aparatur muda pemasyarakatan yang tangguh, disiplin, dan berorientasi pada pelayanan publik. Dalam arahannya, Kepala Lapas menegaskan bahwa CPNS merupakan “tunas integritas” yang akan menentukan wajah institusi di masa depan.
“Disiplin bukan pilihan, melainkan kewajiban. Integritas bukan slogan, tetapi harus menjadi napas dalam setiap pelaksanaan tugas,” tegasnya di hadapan para CPNS.
Lebih dari itu, evaluasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada capaian kerja semata. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada pembentukan pola pikir (mindset), etos kerja, serta kemampuan adaptasi terhadap dinamika tugas di lingkungan pemasyarakatan yang penuh tantangan.
Dalam suasana yang penuh semangat dan keterbukaan, para CPNS diajak untuk memahami secara mendalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi) mereka. Hal ini dinilai krusial agar setiap individu mampu bekerja secara profesional, responsif, serta memiliki kepekaan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat dan warga binaan.
Evaluasi juga dijadikan sebagai pijakan untuk terus berinovasi. Kepala Lapas menekankan bahwa aparatur pemasyarakatan tidak boleh stagnan, melainkan harus mampu menghadirkan gagasan-gagasan baru yang berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas pelayanan.
“Jangan takut dievaluasi, karena dari situlah kita tahu di mana harus memperbaiki diri. Evaluasi adalah jalan menuju perubahan,” lanjutnya.
Langkah ini mendapat respons positif dari para CPNS yang merasa mendapatkan arahan jelas sekaligus motivasi kuat dalam menjalankan tugas. Mereka menyadari bahwa menjadi bagian dari pemasyarakatan bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga pengabdian dan tanggung jawab moral.
Dengan adanya penguatan dan evaluasi ini, Lapas Kelas IIB Teluk Kuantan optimistis mampu menciptakan generasi aparatur yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga kokoh dalam integritas dan komitmen pelayanan.
Upaya ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa reformasi birokrasi di lingkungan pemasyarakatan terus bergerak maju. Lapas Teluk Kuantan menunjukkan bahwa perubahan tidak harus menunggu lama—ia bisa dimulai dari pembinaan yang serius terhadap generasi muda aparatur.
Menuju tunas integritas yang handal bukan sekadar slogan. Di Teluk Kuantan, itu sedang dibangun—dengan disiplin, evaluasi, dan tekad yang tak tergoyahkan.











